Pages

Thursday, January 13, 2011

Seven Pounds


Genre: Dramas
Theatrical Release:Dec 19, 2008 Wide
Box Office: $69,951,824
Starring: Will Smith, Rosario Dawson, Woody Harrelson, Barry Peppe
Director: Gabriele Muccino
Screenwriter: Grant Nieporte
Produser : Todd Black, Will Smith, Jason Blumenthal
Studio: Columbia Pictures

Menurut saya Tim Thomas yang menggunakan nama Ben Thomas (Will Smith) adalah seorang lelaki yang entah sangat kuat dan pemberani, ataukah hanya seorang pengecut yang berusaha melakukan pembenaran atas kepengecutannya. Terlibat dalam suatu kecelakaan hebat sebagai masa silamnya yang menewaskan 7 orang, termasuk salah satunya adalah tunangannya, Sarah Jenson (Robinne Lee). Ingin menebus dosa serta mengatasi rasa bersalahnya, Ben memutuskan untuk melakukan random kindness to 7 random people in need. Emily Posa (Rosario Dawson), Ezra Turner (Woody Harrelson), Holly Apelgren (Judyann Elder), Connie Tepos (Elpidia Carrillo), dan Ben’s Brother, the actual Ben Thomas (Michael Ealy),  adalah beberapa orang-orang yang sangat membutuhkan pertolonga.  Menarik? Sampai sini belum.
Tapi apakah yang akan dilakukan Ben untuk bisa menolong orang2 ini? Itu yang menarik. Ia bahkan harus melakukan research yang mendetil tentang keadaan orang2 ini. Mulai dari keadaan keuangan, keluarga, kesehatan bahkan hubungan mereka dengan pasangan mereka. Sedikit nosy. Tapi kalau kamu tahu apa yang akan ia lakukan, saya pikir tindakannya adalah tindakan yang wajar. Rencana ini dibantu oleh seorang pengacara yang juga sahabat dari masa kecilnya, Dan (Barry Pepper), yang walaupun dengan berat hati, tetap ingin menunjukkan loyalitasnya sebagai seorang sahabat.
Awal film ini sedikit membingungkan. Membuat kita menebak-nebak apa yang akan terjadi dan apa yang sudah terjadi. Kita terus dibuat bertanya2 dan dipaksa untuk menghubungkan satu titik hitam ke titik hitam berikutnya. Scene cutting yang halus membuat kamu enggan berhenti menebak walaupun pada titik tertentu rasanya kamu ingin menyerah karena gagal mengerti plot film ini. Seperti kata Seattle Post-Intelegence, “A movie that plays better if you know nothing about it.” Film ini seperti mengajak otak kita berpikir. Menstimulasi agar otak kita tetap bekerja walaupun kita hanya tinggal duduk manis di dalam bioskop sambil mengunyah popcorn.
Kolaborasi yang kedua antara nominee academy award, Will Smith dengan sutradaraGabriele Muccino serta produser Todd Black dan Jason Blumenthal dalam film Pursuit of Happiness ini melahirkan karya baru yang bahkan tak kalah mengharukan. Will bermain cantik, dengan menghilangkan semua bahasa tubuhnya yang selalu dianggap sebagai seorang yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri, dan mulai menjelma menjadi seorang yang tidak stabil, penuh kesedihan tanpa menghilangkan aura humanity yang juga dimunculkannya di Pursuit of Happiness.
Selain Smith, ada 2 orang yang ingin saya highlight di sini. Barry Reaper, yang mungkin performanya pernah kamu lihat dalam film Saving Private Ryan dan Greenmile, serta Woody Harrelson pemain dalam film Anger Management dan 2012 yang akan direlease tahun ini, yang walau kemunculannya sangat sedikit, tapi bisa membuat efek yang sangat dramatis pada film ini. Kematangan akting mereka menambah rasa haru bagi para penonton. Mereka begitu mendalami perannya masing2, begitu masuk ke dalam karakter masing2 hingga membuat kamu berpikir, tidak akan ada orang lain yang lebih cocok untuk memerankan peran ini. Walaupun begitu, entah mengapa saya merasa Rosario Dawson, sebagai lead wanita dalam film ini tidak bermain tuntas. Saya kurang merasa adanya chemistry yang kuat antara karakternya Emily dan Ben.
Menurut saya, film ini bagus secara keseluruhan. Walaupun seperti yang sudah saya tulis di atas, saya sedikit ragu2 apakah film ini bisa dianggap sebagai film yang humanis, ataukah hanya sekedar film tolol tentang tokoh tolol yang berusaha membenarkan kepengecutannya. Endingnya tentu saja sudah tertebak sejak 1/2 film berjalan. Tapi bagaimanapun itu tidak bisa mencegah air mata haru saya tertitik sedikit sambil berujar “kereeennn….”.
Jadi tunggu apa lagi? Mendingan kamu langsung beli tiket 21 terdekat mumpung filmnya masih baru diputar. Pesan popcorn dan Iced Blencino-nya 21 buat temenin kamu.

1 comment:

  1. Iya, keren emang. Awalnya nebak-nebak. Hidup dengan rasa bersalah emang enggak enak. Tapi mungkin itu cara terbaik dia buat nebus perasaannya sendiri. Saya ga perduli itu humanis atau pengecut, karena ga mesti ditiru ataupun dianggap remeh.

    Hehe nice review

    ReplyDelete