Genre: Action/Adventure
Starring: Mark Wahlberg, Mila Kunis, Beau Bridges, Chris “Ludacris” Bridges, Olga Kurylenko, Chris O’Donnell, Donal Logue, Amaury Nolasco, Kate Burton
Director: John Moore
Screenwriter: Beau Thorne
Producer: Julie Yorn, Scott Faye, John Moore
Composer: Marco Beltrami, Buck Sanders
Studio: 20th Century Fox
Starring: Mark Wahlberg, Mila Kunis, Beau Bridges, Chris “Ludacris” Bridges, Olga Kurylenko, Chris O’Donnell, Donal Logue, Amaury Nolasco, Kate Burton
Director: John Moore
Screenwriter: Beau Thorne
Producer: Julie Yorn, Scott Faye, John Moore
Composer: Marco Beltrami, Buck Sanders
Studio: 20th Century Fox
Sekali lagi film berbasis game. Mengikuti jejak Silent Hill, Resident Evil dan game-game lainnya. Kali ini dibintangi oleh Mark “Marky Mark” Walbergh. Jujur, saat melihat posternya, saya mengharapkan cerita action gothic dari film ini. Maklumlah, saya memang bukan gamer sejati, dan sama sekali belum pernah memainkan game ini. Tapi ternyata saya dikecewakan oleh jalan cerita film ini yang begitu cliche dan membosankan. Tidak ada yang original. Dan hampir seragam dengan kebanyakan film Walbergh lainnya. Dimana seperti biasa, Walbergh selalu bermain sebagai seorang mantan detektif, mantan polisi, atauapapunlah dengan masa lalu yang kelam, penuh kegetiran, kehilangan anggota keluarga atau sahabat yang menyebabkan dirinya jadi pribadi yang dingin dan pahit. Sama seperti karakternya kali ini, Max Payne, yang hidup dalam kesedihan dan kepahitan karena istrinya dibunuh. Akhirnya sisa hidupnyapun dihabiskan untuk mencari dan terus mencari siapakah yang menjadi dalang pembunuhan istrinya tersebut. Dan pada akhirnya perburuan tersebut mulai terkuak setelah pertemuannya dengan seorang wanita (forthcoming Bond girl Olga Kurylenko), yang juga akhirnya terbunuh secara misterius, yang kemudian malah membuat Payne menjadi tersangka dari pembunuhan itu. Berangkat dari situ, Payne mulai terseret kedalam kasus demi kasus yang membawanya ke penjualan jenis drug terbaru, dan pengkhianatan dari orang terdekatnya yang juga membuka mistery pembunuhan istrinya.
Bahkan dengan grafic yang memukau, animasi yang mengesankan dan aksi-aksi yang melibatkan banyak darah (walaupun tidak cukup banyak untuk ukuran saya), film ini tidak mampu mencegah teman saya tertidur di bangkunya, sementara saya bolak balik melirik jam sambil berpikir “kapan film ini akan selesai?!”. Mark Walbergh bermain terlalu monoton. Sepertinya actingnya tidak lagi berkembang dan mulai stuck di peran yang begitu-begitu saja. Terlalu banyak drama membuat film ini jadi semakin lambat dan membosankan. Saya mulai bertanya-tanya apa yang ingin disuguhkan oleh John Moore dalam film ini. Semuanya serba tanggung. Action yang tanggung, thriller yang tanggung, darah yang tanggung, cabikan yang tanggung. Dan kemudian berpikir bahwa beberapa Valkyries yang terbang, menukik, melengking mungkin bisa membantu membuat film ini jadi lebih baik. Just for information, they’re not helping at all! Mungkin sudah waktunya Moore mulai melirik film-film drama komedi romantis.
Dan apa yang lebih menyeramkan dari semua itu? Kalau cukup sabar terus menonton dan membaca credit title yang panjang itu, ada scene pendek yang memberikan hint bahwa akan ada sequel dari film ini. Tak terbayangkan! Jadi kalau weekend ini kamu berniat untuk menyambangi 21 ataupun blitzmegaplex hanya untuk menonton film ini, jangan lupa bawa PSP atau bantal lengkap dengan bed covernya. Ya, film ini sebegitu parahnya.

No comments:
Post a Comment