Pages

Thursday, January 13, 2011

quarantine


Rated: R [See Full Rating] for bloody violent and disturbing content, terror and language.
Runtime: 89 mins
Genre: Horror/Suspense
Theatrical Release: Oct 10, 2008 Wide
Box Office: $31,691,811
Starring: Jennifer Carpenter, Steve Harris, Johnathon Schaech, Columbus Short, Jay Hernandez, Rade Serbedzija
Director: John Erick Dowdle
Screenwriter: John Erick Dowdle, Drew Dowdle
Studio: Sony Pictures Entertainment

Another remake movie, adapted from 2007 Spanish movie “REC”. Para kritikus mengatakan bahwa Quarantine sebagai film adaptasi, tidaklah sebagus film aslinya. Saya sendiri yang belum menonton REC berpendapat lain. Karena tidak ada bahan pembandi, saya menganggap Quarantine adalah film horor thriller berbudget rendah yang spektakuler.
Angela (Jennifer Carpenter) dan kameramennya Scott (Steve Harris), ditugaskan meliput rutinitas dan kegiatan para pemadam kebakaran shift malam. Setelah beberapa jam menunggu dalam kejenuhan, akhirnya ada panggilan emergency dari 911 yang menuntun mereka semua ke sebuah apartment tua yang kecil. Hanya 4 lantai dan 3 apartment di setiap lantainya. Di lokasi, sudah ada 2 petugas LAPD yang mendapat laporan dari penghuni yang mendengar suara teriakan dari seorang wanita tua salah satu penghuni apartment itu. Wanita yang diduga mengidap virus aneh yang misterius ini mulai menyerang orang lain. Satu petugas LAPD dan salah seorang pemadam kebakaran. Dan ditengah2 situasi tegang itu, kepanikan ditambah dengan Pemerintah yang tiba2 menyegel gedung tersebut sehingga tidak memungkinkan ada orang yang bisa masuk ataupun keluar. Padahal korban sekarang sedang berjatuhan di dalam gedung. Belum lagi teror karena takut diserang dan tertulari virus aneh tersebut. Mari coba kita bayangkan bila kita berada di sana. Terisolasi dari kemungkinan  mendapatkan pertolongan dari luar, serta terkurung bersama-sama dengan para penghuni yang satu persatu mulai berubah menjadi zombie yang siap menyerang dan menyantap kita, berlarian kesana kemari menghindari zombie2 itu sambil berusaha menolong orang lain yang terluka, dan dipuncak kepanikan, seluruh lampu dipadamkan! Gelap pekat, hanya dengan sedikit penerangan dari lampu kamera yang tak akan bertahan lama. Belum lagi beberapa anjing binatang piaraan yang sudah terinfeksi dengan penciuman yang sama tajamnya, naluri membunuh yang lebih mengerikan, dan kegemaran menyantap daging manusia. Bayangkan teror yang terjadi dalam gedung tua tersebut.
Sang sutradara, John Eric Dowdle, juga menyutradarai film horor The Poughkeepsie Tapes, yang sama dengan Quarantine menggunakan pendekatan pseudo-documentary untuk memberikan detail dalam film ini berhasil menciptakan ketegangan dengan level chaotic dan kengerian yang tinggi. Metode handheld camera juga memberi efek yang luar biasa dalam memperuncing thriller ini.  Kalau biasanya kita dimanjakan dengan backsound music yang akan menggiring kita pada peningkatan ketegangan sebuah scene, membuat jantung semakin deg2an karena bisa menebak bahwa scene mengejutkan akan segera terjadi, maka kamu tidak akan menemukan hal seperti itu di film ini. Absennya backsound music membuat kamu tidak bisa menebak kapan scene mengejutkan itu akan terjadi. Semua bisa terjadi kapan saja, cepat, tak terduga. Dengan demikian efek kejutannyapun akan terasa semakin parah dan mencekam. Belum lagi efek bahwa seolah2 kita benar2 berada disana, ikut mengalami semua kekacauan dan thriller ini. Total Chaos.  Walaupun berbudget rendah, kita harus memberi sedikit credit lebih untuk quarantine karena seluruh monster yang ada sama sekali tidak menggunakan spesial efek dari komputer, serta konsistensi jalan cerita yang logis, masih bisa menyuguhkan scene demi scene yang sangat memukau dengan intensitas yang sangat tinggi. Serta pemilihan setting yang mendukung. Gedung yang tidak terlalu besar, dengan teror yang sedemikian menekan, mampu membuat jagoan manapun jadi claustrophobic.
Awalnya saya agak sedikit skeptis pada acting Jennifer Carpenter. Angela sebagai seorang reporter tampak seperti tidak berada pada tempatnya. Saya sempat menduga ia hanya sebagai Eye-Candy. Tapi ditengah film, saya dipaksa menelan bulat2 semua dugaan saya itu. Jennifer bermain cantik dan sangat realistic. Hanya dengan melihat aktingnya, kita bisa ikut merasakan teror yang terjadi. Tapi bagaimanapun, ternyata memang ada tokoh Eye-Candy dalam film ini. Dan saya cukup senang karena–tidak seperti biasanya–tokoh Eye-Candy tersebut seorang lelaki. Columbus Short yang berperan sebagai salah satu dari petugas LAPD. Bintang dari film Stomp the Yard dan Step Up 2 ini lumayan bisa mencuci mata saya ditengah2 semua pertarungan penuh darah tersebuh. Walau tidak terlalu lama, tapi tak apa. :D
Sama seperti Blairwitch Project dan Cloverfield, untuk awal2 mata kita dipaksa untuk beradaptasi dengan goyangan2 tehnik handheld camera ini. Tapi kita boleh sedikit tenang, karena di Quarantine, goyangan2 itu tidak seliar di cloverfield. Jadi saya tidak akan menyarankan agar membawa antimo untuk nonton film ini. Hanya saja, saya sarankan, bagi yang menderita lemah jantung, lebih baik tidak nonton. BISA MATI KALIAN!!!
Dan sedikit bocoran, baru sekali ini saya nonton di bioskop, di beberapa thrilling scenes, 1 bioskop berteriak ngeri karena saking kagetnya. Yeap, including me! Terpaksa harus menelan harga diri sebagai Iceberg On Cinema. :D
Jadi udah tau kan apa yang bisa kamu lakukan weekend depan? Selamat menonton. Cheers!

No comments:

Post a Comment